Diskusi Membedah Industri Migas Indonesia

Dunia industri migas memang masih dianggap sebagai industri menara gading, dan sering kurang dipahami oleh masyarakat, sehingga sangat mudah untuk menjadi komoditas politik. Untuk lebih melakukan sosialisasi tentang industri migas, Paguyuban Asmari Kertajaya mengadakan webinar dengan mengundang Maghfira Ramadani, peneliti migas dari Institut Teknologi Bandung untuk melakukan pemaparan mengenai dunia migas.

Maghfira Ramadani atau lebih akrab dipanggil Mas Afi, adalah alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2013. Mas Afi kemudian melanjutkan pendidikan untuk kuliah di Teknik Perminyakan ITB. Sekarang ini beliau menjadi peneliti di Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung.

Mas Afi memaparkan bahwa industri migas cakupannya cukup luas karena meliputi industri hulu berupa eksplorasi dan produksi migas sampai ke hilir berupa pemprosesan migas menjadi produk-produk yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu, perdagangan atau trading migas juga merupakan komponen yang cukup vital dalam industri migas.

Produk migas sendiri tidak hanya digunakan untuk bahan bakar kendaraan, tetapi juga menjadi bahan baku untuk industri pupuk dan petrokimia. Bahkan hampir semua barang-barang yang dikonsumsi masyarakat berasal dari bahan baku minyak dan gas bumi.

“Produksi minyak bumi Indonesia sendiri merupakan bisnis dengan lifecycle yang lama, bisa mencapai 30-40 tahun, mulai dari proses eksplorasi pencarian sumberdaya migas sampai tahap pengembangan dan produksinya,” demikian papar Afi.

Afi juga menjelaskan bahwa produksi minyak bumi di Indonesia mengalami jaman keemasan pada tahun 70an sampai 90an. Namun sejak Era Reformasi, produksi minyak bumi Indonesia terus mengalami penurunan dari 2 juta barel per hari menjadi sekarang ini menjadi separuhnya di sekitar 700 ribu barrel per hari.

Namun demikian, konsumsi migas di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami peningkatan karena kebutuhan masyarakat akan minyak dan gas bumi akan terus bertambah seiiring dengan pertambahan populasi masyarakat. Sehingga prospek industri migas masih akan terus berkembang. Jika produksi minyak nasional mengalami penurunan, maka Indonesia akan lebih tergantung kepada produk impor migas. Untuk itu, dibutuhkan peran-peran aktif semua stakeholder migas untuk meningkatkan eksplorasi migas.

Sedangkan perkembangan terakhir, harga minyak bumi dunia mengalami gejolak karena perubahan geopolitik dan juga dipicu oleh wabah pandemik Covid19. Namun karena ketidakmenentuan harga minyak bumi dunia tersebut, pemerintah masih belum merubah pagu harga bahan bakar minyak di Indonesia.

Peluang kerja di industri migas juga masih terbuka lebar untuk generasi muda. Karena industri migas mencakup gabungan dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari keteknikan, sosial dan ekonomi. Sedangkan untuk Pertamina, biasanya akan dibuka program BPS (Bimbingan Profesi Sarjana) untuk lulusan-lulusan perguruan tinggi yang berminat meniti karier di Pertamina.

Merebut Beasiswa ke Polandia

Pendidikan memang menjadi sebuah kebutuhan penting untuk meningkatkan kemampuan dan bekal untuk menempuh jenjang karier yang lebih baik. Hal ini perlu juga disiapkan tidak hanya oleh siswa yang bersangkutan, tetapi juga perlu didukung oleh seluruh keluarga. Salah satu beasiswa impian yang dicari adalah beasiswa ke Benua Eropa. Salah satu negara Eropa yang sekarang menjadi favorit sebagai tujuan beasiswa S2 adalah Polandia.

Kita cukup berbangga dengan Bagus Adji Prabowo, salah satu putra terbaik alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2014 yang telah berhasil menembus dan merebut beasiswa di Polandia. Bagas mendapatkan beasiswa dari Ignacy Lukasiewicz Scholarship Programme dan menempuh pendidikan Master (S2) dari NAWA yaitu  Polish National Agency for Academic Exchange.

Untuk menyimak kembali kisah Bagas Prabowo dalam kesuksesannya merebut beasiswa di Polandia dan mengenalkan serba-serbi pengalaman hidup di luar negeri, Paguyuban Asmari Kertajaya mengadakan webinar (seminar online) pada tanggal 10 Mei 2020 dengan tema Bagaimana mendapatkan beasiswa ke luar negeri?. Acara webinar ini dipimpin oleh moderator Hanan Hanifa, alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2013.

Semasa SMA, memang Bagas relatif santai dan lebih banyak bermain band dan berpacaran. Tidak heran, maka nilai sekolah SMA Bagas pun hanya berkisar 6 dan 7 saja. Namun setelah kuliah di IPB Bogor, Bagas lebih serius lagi dalam menekuni pendidikannya. Selepas lulus kuliah S1, Bagas rajin memburu berbagai beasiswa ke pelbagai negara di luar negeri.

Salah satu hal penting untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri, adalah persiapan yang baik. Hal pertama yang perlu dicari dan dikejar sekarang ini adalah informasi, yang sekarang ini bertebaran di internet. Dengan bekal informasi yang baik, dan rajin membaca atau mendengarkan kisah sukses penerima beasiswa lain akan lebih menambah bekal persiapannya.

Untuk mendapatkan beasiswa, salah satu hal yang penting adalah value atau nilai-nilai apa yang ditawarkan untuk mendaftar beasiswa tersebut. Nilai-nilai ini tentu tidak hanya sekedar untuk melanjutkan pekerjaan tetapi harus bersifat membawa perubahan penting bagi masyarakat sekitar.

Tidak lupa, kemampuan bahasa menjadi bekal yang utama. Hal yang umum disyaratkan untuk pendaftaran beasiswa adalah test Bahasa Inggris. Biasanya dalam bentuk TOEFL atau IELTS. Begitu juga dokumen lain seperti MCU (Medical Check Up) juga diperlukan. Tentunya beberapa hal ini membutuhkan persiapan dana yang cukup. Untuk test Bahasa Inggris katakanlah, biayanya sekarang ini berkisar Rp 3 juta.

“Hidup di luar negeri seperti di Polandia memang cukup menyenangkan dan menjadi pengalaman baru untuk hidup kita. Kita jadi terbiasa dengan budaya Eropa dengan disiplin dan toleransi yang tinggi serta berbicara terbuka”, demikian penjelasan Bagas.

Salah satu yang harus diantisipasi adalah pergaulan bebas dan menjalani kehidupan sebagai minoritas. Namun karena masyarakat Eropa mempunyai toleransi yang tinggi, maka akan lebih mudah untuk menyesuaikan.

“Seperti halnya shalat, awalnya hanya melaksanakannya di pojok ruangan. Namun setelah diketahui pihak kampus, bahkan justru diberi ruang kelas kosong untuk melaksanakan ibadah terebut,” papar Bagas.

Dinamika Pembiayaan Bank Syariah

Perbankan syariah sekarang telah mengalami perkembangan yang menjanjikan di Indonesia. Untuk lebih memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia yang memiliki mayoritas pemeluk agama Islam, diperlukan sosialisasi dan edukasi mengenai perbankan syariah.

Untuk itu, Paguyuban Asmari Kertajaya mengadakan webinar dengan tema Dinamika Pembiayaan Bank Syariah. Nara sumber adalah Akhsin Muammar, praktisi keuangan syariah. Akhsin adalah alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2003. Beliau juga termasuk dalam jajaran Pengurus Pusat Paguyuban Asmari Kertajaya (PAKJ), sekaligus menjadi Ketua Gerbong 10.

Akhsin Muammar mempunyai sarat pengalaman di bidang perbankan syariah, dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Cabang Bank Syariah Mandiri. Sekarang ini, beliau juga sedang mengikuti program MBA di Universitas Indonesia dan Grenoble University di Perancis.

Webinar Asmari Kertajaya: Dinamika Pembiayaan Bank Syariah

Perbankan syariah sendiri didukung oleh Undang-undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Mekanisme pembiayaan syariah mempunyai beberapa ragam, yaitu jual beliz sewa atau kerjasama. Dengan demikian, istilah kredit dan debit secara umum dihilangkan dalam terminologi operasional bank syariah.

Selain itu, perbankan syariah didukung juga oleh Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004. Fatwa ini telah dipositivasi dalam Undang-undang No. 21 Tahun 2008 dan seluruh POJK. Mahkamah Agung juga telah menerbitkan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES).

“Dengan dukungan hukum tersebut, maka sebaiknya polemik di masyarakat adanya keraguan terhadap nikai kesyariahan dalam operasional bank syariah tidak perlu terjadi,” demikian papar Akhsin Muammar.

Data OJK untuk bank syariah menunjukkan bahwa market share bank syariah masih rendah yaitu di kisaran 6%. Perlahan tapi pasti jumlahnya terus bertambah seiring kepercayaan masyarakat. Dominasi peruntukan pembiayaan bank syariah didominasi oleh sektor produktif terutama untuk modal kerja dan investasi. Akad yang digunakan umumnya berupa murabahah (jual beli) dan musyarakah (berbasis kerjasama bank dan nasabah).

Uji Kesehatan

Oleh Aris Setiawan

Setiap perusahaan yang baik biasanya menguji kesehatan pegawainya. Paling tidak sebagai catatan untuk mendeteksi gejala-gejala penyakit yang sekarang ini makin mahal saja perawatannya. Juga baik buat saya, untuk menakar tingkat kebugaran sehingga dapat dipahami untuk merubah gaya hidup menjadi lebih sehat lagi.

Kejutan pertama adalah berat badan, kiranya selama setahun tubuh ini makin berbobot saja. Biasanya di sekitaran 73 kilogram, namun sekarang sudah bertambah tiga kilogram. Jumlah penambahan yang cukup besar juga di usia yang sudah tak muda.

Saya ingat-ingat dan amati, perasaan tak ada yang berubah dalam pola hidup sehari-hari. Lari atau bersepeda pun rutin dijalani. Namun mengapa timbangan bertambah saja, kiranya karena pola makan yang sedikit berbeda. Sebenarnya juga tidak terlalu berbeda sangat, dulu terkadang makan siang dengan buah atau salad sayuran saja. Namun entah kenapa kebiasaan itu terhenti dan lebih suka menyantap nasi kotak yang sedap.

***

Yang lebih membahagiakan adalah pengingat yang selalu datang. Berat badan menjadi pemicu, dan kebetulan kemarin ikut mendengarkan acara Talkshow dari Dr. Tan Shot Yen. Tan dikenal sebagai dokter wanita yang pemarah. Dan pagi itu ia bicara menggelegar selama dua jam.

Tentu saja yang dibicarakan adalah pola makan yang menurutnya tidak sehat semua. Ia agaknya menyitir materi presentasi Latihan Dasar Kepemimpinan HMI, di mana menyebutkan manusia adalah ciptaan Tuhan jadi harus hidup sesuai aturan-Nya. Termasuk pola makan harus sedekat mungkin dengan alam.

Ia campakkan pola menu empat sehat lima sempurna, karena sudah sembilan belas tahun tidak lagi diacu oleh Departemen Kesehatan, namun kita tetap mengikutinya. Dr Tan juga secara lantang menyalahkan konsep sembilan bahan pokok, yang hanya ada di Indonesia dan semuanya adalah dagangan Engkon Liem Sioe Liong.

Dr Tan juga menjelaskan empat setan karbohidrat yang harus dijauhi. Iaitu gula, nasi, terigu dan pati. Bahkan ia mengilustrasikan untuk menghancurkan bangsa Indonesia tidaklah diperlukan armada perang atau teroris, tetapi cukuplah membuka Starbucks dan J.Co di setiap kecamatan. Niscaya kesehatan bangsa akan hancur dalam sekejap.

Empat setan karbohidrat itu berbahaya karena memunculkan beberapa masalah. Iaitu: 1) penyempitan pembuluh darah 2) pengentalan darah 3) berbiaknya bakteri, virus dan kanker 4) berkurangnya kekebalan tubuh dan 5) munculnya gejala nyeri yang aneh. Yang paling berbahaya adalah gula, karena kanker berbiak karena gula. Sugar feeds the cancer.

Sedangkan makanan yang baik adalah sehat dan seimbang. Sehat artinya semakin dekat dengan kondisi alam dengan pemanasan minimal. Seimbang artinya tercukupi kebutuhan karbohidrat, protein dan lemak.

Sumber karbohidrat yang paling baik adalah sayuran dan buah. Betul, karena zat karbohidrat terikat oleh serat. Jadi sayuran dan buah akan dicerna dan gula hanya dilelaskan jika gula darah dalam tubuh menurun. Jika gula darah masih mencukupi, maka karbohidrat masih ditahan oleh serat.

Jadi adalah keliru memblender sayuran atau buah, karena berarti memisahkan karbohidrat dengan serat. Sehingga proses pencernaan sayuran tidak sempurna.

Begitulah kira-kira pandangan Dr Tan Shot Yen mengenai makanan sehat. Cukup ternalarkan juga untuk saya mencoba memulainya.

***

Setelah melakukan uji treadmill, beberapa waktu kemudian saya dipanggil oleh dokter jantungnya. Sudah menjadi khawatir saja jangan-jangan ada yang bermasalah di sana. Namun setelah cas cis cus ngalor ngidul, ternyata dokter itu memastikan saja bahwa saya sendiri yang treadmill, bukan orang lain. Itu karena hasil uji treadmill terlalu bagus untuk manusia seumuran saya.

Bahkan karena saking bagusnya, ia menyarankan untuk menambah lagi. Saya pun hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian ia jelaskan bahwa maksudnya untuk boleh menambah larinya.

Untuk Bisa Berhasil Kuncinya Integritas

Oleh Iwan Samariansyah

Hasil wawancara pada tahun 2015 dengan Ir Arif Wibowo, MBA – Direktur Utama PT Airfast Indonesia

Untuk Bisa Berhasil Kuncinya Integritas

Dilahirkan dan dibesarkan dari lingkungan keluarga guru, Arif Wibowo mengenang masa kecilnya dengan mata berbinar-binar. ”Saya beruntung dibesarkan oleh orang tua yang sangat peduli pada pendidikan,” ujarnya saat ditemui tim Penyusun buku di rumahnya yang asri di kawasan Tangerang, beberapa waktu lalu.

Kedua orang tua Arif bekerja sebagai guru di lingkungan Departemen Agama, ayahnya guru agama di SMA sedangkan ibunya di SMK. Hanya saja sewaktu Arif masuk SMA, ayahnya sudah tidak lagi mengajar di tempatnya bersekolah, SMA Negeri 2 Purwokerto. ”Saya enam bersaudara. Nomor satu laki-laki, nomor dua perempuan dan nomor tiga saya. Tiga adik yang lahir sesudah saya perempuan semua. Jadi laki-lakinya memang cuma dua,” kisahnya.

Masa kecil Arif dan keluarganya dilewatkan di Kota Kripik. Dan begitulah sejak TK, SD, SMP dan SMA Arif pun bersekolah di Purwokerto. Dia ingat beberapa temannya yang sekolah sejak masa kanak-kanak. ”Teman saya dari TK sampai SMA itu bernama Elena. Kalau yang dari SD itu namanya Erik. Saya SMP nya di SMP 2, bareng dengan Erik. Juga ada Widya tetapi dia SMP nya masuk ke SMP 1,” kenang Arif. 

Dia mengakui kehidupannya banyak dipengaruhi orang tua yang kebetulan guru. Dengan latar belakang keluarga kelas menengah dan keluarga besar, wajar bila sesekali di rumah selalu terjadi gesekan-gesekan kecil. Entah itu rebutan kamar mandi, acara televisi ataupun perhatian dari orang tua. Tetapi semuanya dapat terselesaikan dengan baik. ”Dalam menyelesaikan masalah, ayah dan ibu selalu bersikap adil dan sabar,” tuturnya.

Dulu selain berprofesi sebagai guru, sang Ibu juga aktif berorganisasi di Golkar. Bahkan pada beberapa Pemilu jaman Orde Baru menjadi Juru Kampanye. Belakangan kesibukan sang Ibu bertambah dan pernah menjadi anggota DPRD Banyumas. ”Jadi karena anak guru maka kita semua dididik supaya rajin belajar. Saya kagum dengan cara orang tua saya mendidik kami.Lha, saya yang anaknya cuma dua saja kerap kewalahan kok,” ujarnya, tergelak.

Hanya saja, kata Arief, dibandingkan jaman dulu dia melihat memang ada perbedaan situasi dan kondisi pendidikan dengan anak-anak jaman sekarang. Kalau sekarang behaviournya memang sudah benar-benar berubah dengan pergaulan yang juga berbeda. Jadi pendekatan orang tua sekarang pada anak-anaknya juga relatif berbeda. 

”Anak sekarang lebih kritis kepada orang tua, dan itu bukan berarti dia sudah tidak menghormati dan sayang sama orang tua, cuma cara bicaranya dan cara menyampaikan sesuatu itu memang berbeda dengan jaman kita kecil dulu. Itu satu hal yang cukup membingungkan kita karena tidak sesuai dengan pengalaman kita dulu,” tukasnya. 

Yang menarik, fighting spirit dari teman-teman yang dikenal Arif sejak sekolah dulu sama, yaitu tingginya semangat bersaing dan berkompetisi di sekolah. ”Ingin dapat ranking, ingin jadi juara kelas, kayaknya semua kita lakukan dengan senang hati. Masalah hasilnya memang soal lain. Orang nanti jadi The Top atau The second ditentukan saat dia duduk di bangku sekolah passionnya mau kemana,” kata Arif. 

Yang jelas, di daerah seperti Purwokerto itu tampak sekali bahwa persaingan berjalan sehat sehingga hasilnya cukup bagus. Anak-anak muda Purwokerto menjadi orang yang terbiasa berkompetisi, terkadang menang dan terkadang kalah. Tetapi semuanya berjalan dengan adil dan terbuka tanpa ada rekayasa sedikitpun. Termasuk dalam soal mendapatkan beasiswa sekolah.  

Sebagai pelajar yang kecerdasannya di atas rata-rata, Arif selalu dapat beasiswa. Ini cukup membantu beban kedua orangtuanya dalam membiayai sekolah. ”Saya masih ingat waktu SMP saya dapat beasiswa yang besarnya perbulan Rp 7.500,- artinya kalau pertahun kan Rp 90ribu. Yang namanya anak guru tahu sendirilah, kan gaji guru nggak besar jadi bisa dapat beasiswa itu cukup membesarkan hati,” kata alumni Teknik Mesin ITS Surabaya itu. 

Arif mengaku tidak begitu aktif berorganisasi semasa SMA. Tetapi dia juara mengaji di sekolah. Yang dia keluhkan sekarang ini, guru-guru banyak yang ndak fairness. Dia melihat bahwa pendidikan sekolah di Jepang cukup bagus untuk ditiru. 

”Anak saya lama di Jepang, kalau dikasih PR juga dikasih kunci. Berapa yang benar dan berapa yang salah. Nanti lapor kepada gurunya. Jadi belajar kejujuran. Soal integritas. Di sana juga kalau berangkat sekolah bareng-bareng, dan murid diajarkan untuk tidak takut bertanya. Ada sesi khusus dimana anak itu harus mengeluarkan pendapat. Guru merupakan bagian dari sistem yang besar itu,” ujarnya.

Sedangkan di Indonesia, situasi pendidikan yang ada parah sekali. Konspirasi soal kecurangan UN misalnya bisa sampai level kabupaten. Jadi siswa-siswi dikasih bocoran soal Ujian Nasional, dan memang faktanya begitu. Berbeda jauh dengan jaman ketika Arif dan teman-teman segenerasinya dulu bersekolah di Purwokerto. ”Bahkan bimbingan test juga nggak seperti sekarang banyak menjamur,” ujarnya. 

Tentang keluarganya, Arif bercerita bahwa kakaknya yang sulung sudah memperoleh gelar Doktor (S-3) dan menjadi dosen di Unsoed. Yang kedua alumni Unsoed juga, Cuma karena perempuan maka dia ikut suami. Lantas dia sendiri nyeleneh karena kuliah jauh sendiri di Surabaya, tepatnya di ITS ambil jurusan Teknik Mesin. Adiknya yang keempat dan kelima juga lulusan Unsoed dan si bungsu masuk Kedokteran UNS Solo.

Yang kedua Unsoed, yang ketiga saya, yang keempat Unsoed juga, yang kelima Unsoed dan yang terakhir Kedokteran UNS. Arif diterima di ITS melalui jalur PMDK alias tanpa tes, bisa jadi karena nilai-nilainya yang di atas rata-rata. Kenapa pilih ITS? Padahal teman-temannya kebanyakan melanjutkan kuliah di Yogyakarta, Bandung atau Semarang. ”Wah tadinya saya ingin ke Teknik Sipil ITB Bandung, tetapi ndak tahu kenapa kok malah pas mengisi formulir PMDK saya pilih Teknik Mesin ITS. Eh diterima. Ya sudah, jalani saja,” katanya.

Waktu kuliah dia punya taktik belajar yang menarik. Arif memilih kost bersama anak-anak yang cerdas. Selain itu, dia juga aktif pula di organisasi kemahasiswaan yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hanya saja keaktifannya itu untuk memperluas pergaulan sebab ada forum diskusinya. Dengan diskusi maka dia bisa belajar banyak dari teman-temannya. Karena memang otaknya memang encer, Arif menyelesaikan kuliahnya selama empat tahun. Ngebut. Jadi masuk 1985 dan pada 1988, dia sudah selesai teori. 

Ada pengalaman menariknya saat dia kuliah. Ceritanya suatu kali, dia harus menempuh empat mata ujian. Saking stresnya pernah yang dia kumpulkan adalah oret-oretan kertas ujian bukan jawaban ujian saya, baru setelah tiga hari baru ketemu. Dia sempat gemetar saat bertemu dengan dosen pengampu mata kuliah tersebut, namun karena dia jujur dan bercerita apa adanya, maka dosen itu mau menerima alasannya. Lulus. 

Saya memang ingin cepat-cepat selesai kuliah, bahkan saat akhir tahun 1988 saat mengerjakan skripsi dia sudah diterima di Schlumberger. ”Lulus sih cuma karena belum dapat gelar sarjana ya nggak diteruskan, saya juga test di Garuda dan Krakatau Steel. Dan akhirnya diterima dua-duanya, tetapi saya ambil Garuda karena lebih duluan memberikan jawaban. Lulus pada Juli 1989, saya ke Kantor Garuda di Jakarta pada Januari 1990,” ujarnya. 

Dia juga masih berkeinginan melanjutkan sekolah. Rencananya kalau tidak dapat tiket beasiswa S-2 maka dia akan keluar dari Garuda. Sewaktu masuk gaji pertama saya masih Rp 150ribu waktu itu, kemudian naik sedikit menjadi Rp 250ribu, sementara di Schlumberger untuk jabatan yang sama sudah dapat USD 2.000 di saat dollar Rp 2.300,- sementara Krakatau Steel Rp 375ribu dan sudah dapat rumah. ”Saya tetap pilih Garuda. Lebih miskin tetapi bisa dapat beasiswa untuk sekolah,” katanya.

Arif punya catatan menarik tentang salah satu teman SMA nya. Teman sebangkunya di SMA bernama Chandra Budijaya. Dia melihat bahwa integritas dan passion Chandra berbeda dengan dirinya. Dan memang terbukti setelah keluar dari lingkungan sekolah, keduanya mengambil jalan berbeda. Chandra kini bekerja mandiri sebagai pengusaha, sedangkan Arif meniti karir di BUMN besar. 

Dia masih ingat betul bahwa temannya itu paling takut kalau sudah mata pelajaran Matematika yang dipegang Ibu Sujiati. Chandra selalu grogi kalau sang guru yang dikenal tegas itu sedang mengajar, dan karena bergaul rapat, Chandra kerap mengeluh pada Arif soal kelemahannya dalam mata pelajaran Matematika itu. Sebagai teman tentu saja Arif selalu bersedia untuk membantu. 

”Dari Chandra inilah saya justru belajar. Bahwa seseorang itu setelah keluar dari lingkungan sekolah yang paling penting adalah integritas dia. Kebetulan passion Chandra untuk bekerja itu berbeda. Kebetulan saya dengan dia sebangku dan bergaul rapat, suka bercanda. Nyatanya kalau dari segi penghidupan justru Chandra itu lebih berhasil dari saya. Hebat, usahanya maju dan dia jagoan dalam soal marketing,” katanya.

Masalahnya, setelah masuk ke BUMN penerbangan besar seperti Garuda Indonesia, Arif juga tidak hanya menekuni bidang engineering yang menjadi basis ilmunya. Dalam perkembangan karirnya dia malah lebih sering berurusan dengan urusan manajemen dan marketing pula. Persis dengan yang kemudian ditekuni oleh teman sebangkunya itu tadi ! ”Saya nggak ada apa-apanya dibandingkan dia,” ujarnya. 

Dari situlah Arif mengambil kesimpulan bahwa yang namanya kemampuan akademik itu hanyalah soal basic. Namun seseorang itu berkembang atau tidaknya bukan hanya ditentukan oleh kemampuan akademis saja melainkan juga multi dimension. ”Bagaimana mengembangkan jaringan, terus bagaimana merencanakan karir ke depan semua itu tergantung visi orang itu,” kata Arif. 

Dia mempelajari itu semua dari pengalaman di lapangan dan belajar dari buku-buku yang dia baca. Perusahaan yang besar sekali di dunia macam General Electric (GE) yang punya pegawai sampai 300 ribu orang di seluruh dunia dan sudah ratusan tahun berdiri ternyata sustainability itu gara-gara apa? Ternyata karena kemampuan individu-individu di GE untuk mengembangkan diri dan itu merupakan kemampuan soft skill. 

”Ini yang membuat survive dan kita bisa masuk menjadi orang yang kompetitif. Ini saya kira yang perlu dibangun untuk adik-adik kita. Perlu kita tularkan untuk adik-adik kita di SMA Negeri 2 Purwokerto. Memang benar, setiap orang itu ada nilai A, B, C, D nya. Akan tetapi nilai baik dan buruk itu tidak menentukan seseorang akan menjadi apa sebenarnya, tetapi dia akan ditentukan oleh proses perjalanannya itu. Dan itu butuh bimbingan tidak bisa jalan dengan sendirinya. Ada proses mentoring disitu, nah dalam proses mentoring itu kita yang lebih senior bisa membaginya pada mereka lewat sebuah leadership centre,” ujarnya.

Leadership centre yang dia bayangkan itu seperti sebuah yayasan non profit dimana para alumni SMA Negeri 2 Purwokerto nantinya saling berkontribusi dalam yayasan tersebut. Namun tetap harus ada pengurus yang profesional untuk menangani kegiatan di yayasan tersebut. Ini akan menjadi semacam knowledge management centre yang bermanfaat bagi alumni SMA Negeri 2 Purwokerto mengasah dirinya. 

”Coba kita lihat perjalanan kakak kelas kita Pak Kuntoro Mangkusubroto. Saya pernah menyimak perjalanan karir beliau yang hebat itu sewaktu beliau membenahi PN Timah, dari yang zero level sampai akhirnya bisa dibawa ke Tbk, ternyata syaratnya sederhana yaitu orang harus punya integritas. Saya lihat juga dari orang-orang bule itu ternyata semuanya bicara soal integritas,” kata Arif.

Menurut dia, seseorang itu kalau dia tidak jujur pada pekerjaannya, tidak dikerjakan dari A – Z maka dia akan mudah jatuh ke bawah. Orang-orang dengan tradisi pendidikan barat, kata Arif, kalau menjudge seseorang ukurannya selalu pada soal integritas, jadi menghukum juga dikaitkan dengan itu. ”Orang bule itu sangat fair dalam soal menghargai orang lain. Makin tinggi integritas anda, maka anda akan semakin dihormati,” kata Arif. 

Itu juga yang terjadi di Jepang. Misalkan dia ahli metalurgi terus dia melakukan inspeksi tetapi dia melakukan kebohongan meskipun membela perusahaan, namun akhirnya dia tetap dipecat. Ada seorang profesional di sana yang berkarir selama 20 tahun kemudian menjadi CEO dan dia sustainable di posisi itu karena satu hal yaitu dia membangun integritas. Setelah kompetensi, baru kemudian integritas. Dia mengkader para pemimpin perusahaannya dengan cara yang unik. Dia selalu mengajak para karyawannya ke acara-acara non formal dulu, dites disitu dan kemudian dari situlah dia menemukan pemimpin-pemimpin baru diperusahaan itu.

”Untuk kasus Indonesia biasanya tergantung perusahaannya, kalau sudah perusahaan Tbk maka perusahaan itu dipaksa untuk berintegritas. Sebab cara pelaporan perusahaan itu ke publik saja sudah membutuhkan integritas, mana bisa main-main. Biasanya itu kalau perusahaan itu sudah Tbk dipaksa untuk transparan, profesional dan berintegritas. Kalau kehilangan kepercayaan bisa habis reputasinya,” ujarnya. 

Di Amerika sudah terjadi satu pelajaran berharga pada Lehman Brothers ketika perusahaan itu membuat laporan palsu, dan akhirnya membuat ambruk. Karena itulah kalau perusahaan mau panjang usianya maka perusahaan tersebut harus didasarkan pada integritas. 

Arif punya kegemaran membaca buku-buku motivasi hidup. Dia sudah membaca buku-buku Dale Carnegie sejak masih sekolah dulu. Dan dia juga suka membaca biografi-biografi tokoh terkemuka di dunia politik dan bisnis. Itu yang ikut membentuk kepribadian dirinya. Di Garuda dia kemudian ditugaskan mendalami pemasaran jadi bukan di bagian Teknik lagi. 

Karena sekolah, akhirnya gaji Arif dinaikkan. ”Saya naik jadi Kepala Cabang Garuda mulai 19 September 1996 jadi manajer OJT ikut anak-anak mekanik, saya sudah keluar dari Teknik pada 1994, specialis structure Aircraft, kepala seksi sudah menanti. Kemudian balik jadi commercial di Garuda akibat suka berhubungan dengan orang. Ya memang berat tantangannya, apalagi saya Insinyur masuk ke Niaga,” ujarnya. 

Di bagian Niaga Garuda, Arief dipressure oleh sejawat-jawatnya, namun dia terus bertahan sekuat tenaga. Dan dia berhasil. Dia akhirnya diangkat menjadi Manajer untuk kerjasama antar perusahaan penerbangan dan anak-anak buah dia banyak yang mantan GM Branch Office. Setelah Garuda jadi Tbk maka perusahaan penerbangan milik negara itu terdorong untuk lebih transparan, 

Kini setelah menjadi eksekutif puncak di anak perusahaan Garuda yaitu Citilink, Arif Wibowo tertantang untuk membangun perusahaan itu sebaik-baiknya. Dia punya contoh bagus di Garuda, yaitu mantan atasannya. Dia menyebut nama-nama seperti Emir Sattar, Wiweko, Robby Johan dan juga mantan atasan langsungnya yang orang Manado bernama Robert Waloney (kini Direktur di PT Angkasa Pura). 

”Tahun 1996 itu tahun saya masuk ke manajerial, saya jadi Kepala Seksi, pada 1999 saya jadi GM di bagian aliansi kerjasama perusahaan penerbangan, pak Robert inilah yang mengajak saya ke sana. Waktu itu dia adakah Vice President untuk Marketing dan Kerjasama. Dia minta saya mengurusi kerjasama antara Sempati dengan Garuda. Saya buktikan bahwa saya bisa. Sayangnya habis tanda tangan dan gol, Sempati nya malah bubar gara-gara banyak hutang yang tidak sanggup dia bayar,” kata Arif. 

Dia juga pernah berangkat ke Los Angeles (AS) untuk bertemu dengan salah satu mitra Garuda di kota itu juga disuruh oleh Waloney. ”Waktu saya dikasih assignment itu maka saya anggap itu tantangan. Padahal Bahasa Inggris saya kan masih gaya Banyumasan. Tetapi saya persiapkan matang dulu untuk berdiskusi dengan orang-orang bule itu. Saya hafalkan di luar kepala, dan akhirnya saya berhasil,” ujar Arif. (***)

Hidup itu Berputar Seperti Roda

Oleh Iwan Samariansyah

Prof Dr Agus Sardjono, SH – Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia dan Musisi

Menelusuri perjalanan hidup seorang Agus Sardjono, ibarat mengendarai roller coaster. Naik turun, kadang mendaki, kadang menurun. Namun di penghujung perjalanan hidupnya kini, Agus menikmati buah manis perjuangan hidupnya yang penuh lika-liku itu. Hidup tenang, seraya berkarya terus di Kampus paling bergengsi di tanah air, Universitas Indonesia.

”Saya menjadi orang hukum itu sebetulnya meleset dari cita-cita awal saya yaitu ingin menjadi seorang arsitek. Waktu saya SMA sebenarnya setelah lulus masuk ke arsitektur tapi karena kemampuan orang tua yang tidak bisa membiayai maka saya sadar diri. Sebab kalau ke arsitektur, saya harus keluar kota, ke Jogja. Dengan kata lain saya keluar uang untuk sekolah, tempat tingal malan dan sebagainya,” kenang pria kelahiran Banyumas, 16 Agustus 1955 itu. 

Kehidupan Agus muda memang begitu bersahaja. Maklum. Orang tuanya ketika itu hanyalah pasangan petani kecil dengan kepemilikan lahan kurang dari satu hektar di Sokaraja, Banyumas. Dia anak ketiga dari tujuh besaudara. Dan dia satu-satunya lelaki sebab semua saudaranya perempuan semua. Semasa sekolah, dia sering membantu pekerjaan sang ayah di sawah. 

”Tidak lama. Sebab ayah saya bertekad agar saya mementingkan belajar dari bekerja membantu dia di sawah. Kecuali pas sudah lulus SMA dan menganggur. Itupun tidak lama. Waktu itu, saya bantu pekerjaan bapak saya di sawah paling dari jam 08.00 – 10.00 WIB. Selebihnya bisa panas sekali. Saya malas,” ujarnya. 

Sehabis itu, dia memilih main atau lempar-lempar burung yang suka menjarah padi yang mulai menguning. ”Pokoknya apa pekerjaan bapak di sawah tetap dibantuin oleh Agus. Selebihnya free. Malam juga bisa ikut ronda dan tidur sama teman-teman. Begadang sampai jam 03.00 dini hari,” kata Agus.

Sewaktu bersekolah di SMA Negeri 2 Purwokerto periode 1972 – 1974 Agus suka dengan pelajaran Fisika. Tak heran bila dia memilih jurusan IPA. Prestasinya semasa sekolah biasa saja, yang penting dia tidak pernah tidak lulus untuk mata pelajaran apapun. Dia juga ikut drumband dan jadi anak band semasa sekolahnya. Olahraga juga tidak begitu pandai. Paling-paling hanya suka ping pong sama basket atau volly.


”Yang paling saya ingat guru-gurunya yang pernah menghukum saya. Hahahaha, waktu itu ada guru agama tuh yang keras banget. Saya pernah ditarik kupingnya keras-keras karena kabur. Ceritanya ada helikopter turun di Purwokerto dan karena saya ingin lihat main kabur saja dari sekolah. Terus pulangnya dihukum,” kenang Agus.


Kemudian dia juga ingat ada guru kimia, yang menghukum suka menggebuk muridnya pakai penggaris kayu. Terus ada juga Ibu Suci, guru Fisika, salah satu pelajaran favoritnya. ”Waktu itu kepala skolahnya Pak Harto, kami bahkan sempat melepas dua guru yang ditugaskan ke Malaysia,” kata Agus.


Soal pelajaran Fisika semasa SMA itu, sebuah kenangan manis sempat dia ingat. Sebagai salah satu pelajaran favoritnya, kalau ada PR atau tugas di kelas maka dia sering ditunjuk paling akhir. ”Kalau orang nggak bisa ngerjain baru saya diminta membereskannya. Jadi saya ini kesayangannya Bu Suci, hahahaha. Kedua, guru kimia, karena Ilmu Kimia itu menurut saya ilmu yang menarik. Saya pernah uji coba pakai rumus kimia. Kok ini ada api, lantas ada air. Nah saya coba, hitung-hitungan Kimia. Dan benar saja, ketika dicampurkan langsung wussshh, menyala. Saya senang mengutak atik rumus, sayangnya sekarang nggak ada yang nyangkut sama sekali. Tapi paling nggak logikanya saya masih dapat,” kisahnya panjang lebar.

Teman-teman seangkatannya di SMA terheran-heran saat mengetahui jagoan Fisika mereka malah berubah menjadi Guru Besar bidang Ilmu Hukum. Rata-rata bertanya kenapa Agus yang dikenal ingin jadi jadi arsitek berubah haluan jadi pengajar Ilmu Hukum. Etapi setelah tahu jalan panjang perjalanan hidup Agus yang penuh perjuangan, merekapun angkat topi.

”Kita baru saja ketemu teman-teman lama. Ramai sekali, ceritanya lucu-lucu. Ada juga cerita tentang cewek, pacaran sama si ini sama si itu. Kalau saya kan nggak sempat begitu. Karena bukannya nggak kepengen cerita-cerita itu, tapi ya tahu dirilah. Boro–boro buat senang-senang, hidup saja sudah susah. Waktu saya sekolah dulu, kalau ada waktu luang, mending saya bantu orang tua, malamnya bergaul sama teman-teman di kampung yang hidupnya sama-sama susah,” ujarnya. 

Yang menarik, Agus sempat bertanya pada beberapa orang yang dulu dia kenal. Dia bisa menarik kesimpulan betapa Tuhan itu benar-benar Maha Adil. Dulu ada sejumlah teman yang dulunya hidup mapan dan bisa dikatakan hidup berkecukupan, lantas pada cerita semua bertukar informasi. Dia tentu saja ingin tahu nasib teman-temannya. Karena dulu itu dia di atas, saya di bawah. Tetapi dunia berputar seperti roda. Sekarang dirinya tidak lagi berada di bawah. Suatu hal yang pantas untuk disyukuri nikmat dari Tuhan.

”Saya dulu selesai SMA memilih untuk tidak melanjutkan kuliah. Saya kasihan sama orang tua. Takut membebani mereka, sebab biaya kuliah tidak sedikit. Jadi ketika pada akhirnya saya lulus SMA, selama setahun saya jadi bambung. Tidak meneruskan kuliah. Saya diam saja di Sokaraja, sementara kawan-kawan saya sudah pergi kemana-mana. Ada yang kuliah, ada pula yang kerja,” kata Guru Besar Fakultas Hukum UI itu.

Meski bambung, Agus tak berkecil hati. Dia menikmati masa selepas SMA nya pada tahun 1974 itu sebagai saat-saat yang penuh kebebasan. Setahun penuh dia kerjanya nongkrong saja di Sokaraja, kota kecil sebelah timur Purwokerto itu. Tidak sekolah. Tidak kerja. ”Ya lontang lantung. Melek malam, nongkrong di jembatan, jadi saya memuaskan diri menjadi anak muda yang baru saja selesai sekolah,” katanya.


Namun kesadaran itu datang juga padanya. Dia kemudian berfikir soal kehidupannya yang bambung itu. ”Jika saya seperti itu terus, saya tidak akan bisa berkembang. Saya harus melakukan sesuatu,” katanya.

Dan begitulah. Pada tahun 1975. Setahun setelah lulus SMA, dia memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta. Hanya berbekal uang Rp 5.000,- dia nekad ke Ibukota Negara.  Jumlah uang sebesar itu masih lumayan nilainya. Meski tidak banyak tetapi bisa beli tiket bus. Orang tuanya yang dipamiti Agus hanya bisa berpesan pada puteranya itu agar baik-baik menjaga diri dan melepaskannya dengan tatapan penuh kasih sayang. 

Agus muda itupun pergi ke terminal bus. Uangnya masih bersisa setelah dia membeli tiket bus sekali jalan Purwokerto – Jakarta. ”Harga tiket saya lupa. Yang jelas saya berangkat ke jakarta dengan tas kecil berisi pakaian seadanya. Itulah kekayaan satu-satunya yang saya punya ketika itu,” ujarnya.


Mengubah Nasib

Dia pergi ke Jakarta tanpa rencana apapun. Kebetulan di Metropolitan Jakarta ada saudara yang juga sama-sama susah dari kampung. Jadi akhirnya Aguspun menumpang hidup pada saudaranya itu. Tidak lama, hanya dua bulanan. Namanya Suripto, seorang pensiunan tentara. 

Melihat anak muda itu belum bekerja, Suripto lantas menawari Agus untuk bekerja membantu dia membesarkan usaha pribadinya. Usaha swasta. Dia bekerja disitu sebagai kreditur barang-barang. Bayarannya bisa mencicil. Baru sedikit bernafas lega mendadak dia dikabari Suripto bahwa perusahaan itu harus ditutup karena perkembangan ekonomi sedang tidak bagus. Bangkrut. Jadilah dia menganggur lagi. 

Akan tetapi salah satu manager yang bekerja di perusahaan lamanya kemudian mengajak Agus membuka peluang usaha lain. Kebetulan dia mempunyai lahan di kawasan serpong, Tangerang. Jaman tahun itu, kawasan Serpong dan BSD masih berupa daerah persawahan dan hutan belantara. 

Di Serpong, bos barunya itu mengajak Agus bekerja menambang pasir. Tugas Agus adalah menjadi operator penggalian pasir. ”Saya dan teman-teman bertugas mengkuliti tanah lapisan atasnya, kemudian digali untuk diambil pasirnya untuk dijual,” katanya.


Dan itulah pekerjaan Agus berikutnya, menjadi mandor tambang pasir. Orang-orang yang tinggal dekat lahan bos barunya itu ikut menggali pasir, kemudian ada truk yang datang untuk mengangkut pasir itu lantas kemudian dijual. 

Situasi itu berjalan sampai sekitar tiga bulanan. Bisa jadi orang yang mempekerjakan Agus itu percaya padanya sehingga dia diminta mengelola armada truknya yang jumlahnya 5-10 unit itu sebaik-baiknya. Agus tinggal setor. ”Merk truknya Ford. Baknya besi panjang,” tukas Agus, mengenang masa-masa itu.

Truk tersebut dipakai untuk mengangkut pasir, lantas dibawa ke kawasan Semen Cibinong. Dia berhenti karena mengalami kecelakaan di daerah Citeureup. Daerah yang seperti juga Serpong masih sepi. Malam-malam gelap gulita, pulang dari proyek dia kehujanan di tengah jalan. Agus menunggang motor. Ketika ada genangan air di depannya dia terjang terus. ”Eh ternyata ada lubang segede gajah. Sayapun  jatuh terjerembab. Selip dan jatuh terguling-guling. Tangan saya patah. Saya terluka dan menggeletak setengah sadar beberapa lama,” katanya. 

Dan untungnya masih ada orang baik yang kemudian membantu menolong dirinya saat kecelakaan itu. Ada kendaraan umum semacam oplet, distop sama penolongnya dan dia kemudian dibawa ke Rawamangun. Karena sakit itulah akhirnya Agus berhenti dan tidak bersedia melanjutkan lagi pekerjaan itu karena sangat berisiko.

Sebulan berlalu. Agus mulai merasa tidak enak hidup menumpang sama orang tanpa pekerjaan. Dia akhirnya pergi ke tempat salah satu kawan dekatnya di kawasan Kebayoran Lama. Namanya Jonar. Kebetulan orang Betawi. Agus mengaku banyak bergaul dengam orang kampung dan kawannya itu orang Betawi yang baik hati. Diapun menginap di tempat kawannya itu, sekaligus makan di situ. 

Kerjanya di Kebayoran Lama hanya main band sama anak-anak setempat. Agus memang memang suka main band sejak SMP. Bakat musik yang dia miliki banyak membantu dia dalam menempuh kehidupan di masa sulit. 

Di sana dia juga mulai mengenal sejumlah seniman, dan hal itu berjalan cukup lama. Agus bisa bergaul akrab dengan para seniman itu, sejumlah penyanyi dan juga pemain band. Bisa dibilang ketika itu Agus sudah mirip gelandangan. Kalau urusan makan masih bisalah, sebab dia bisa ngamen untuk mencari uang. ”Pakaian saya itu dibantu sama yang punya rumah karena saya nggak punya baju. Kebetulan ukuran pakaian anaknya sama dengan saya, hahaha,” kata Agus tergelak-gelak.

Agus bersyukur pernah punya kenalan seperti temannya itu. Orang Betawi yang benar-benar tulus membantunya. Tidak ada istilah keberatan. Agus juga tidak bantu apa-apa dalam artian menjadi pembantu untuk keluarga orang yang ditumpanginya. Sama sekali tidak. Dia hanya menjadi teman main untuk anaknya. Kira-kira sekitar tiga tahun dia hidup bersama keluarga Jonar di Kebayoran Lama. Sampai sekarang dia masih tetap berhubungan baik. Saling menjaga silaturahmi.


Dewi Fortuna rupanya berpihak padanya. Sekitar tahun 1978, dia diajak seorang teman mendaftarkan diri bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Aguspun memberanikan untuk mendaftarkan diri. Tak disangka, dia diterima sebagai CPNS dan bekerja di Kantor Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN). Karena sudah bekerja, diapun bertekad untuk hidup mandiri. Diapun mencari kost yang dekat kantornya.

Lantas diapun berpamitan dari kawan baiknya dan mulai kost. Sebagai CPNS penghasilan yang dia peroleh tidaklah besar. Dia hanya sanggup membayar kamar kost yang murah dan sederhana. Lantainya saja masih tanah dan tempat tidurnya banyak kutu busuknya. ”Ya saya tinggal di kawasan yang mirip slump area (tempat kumuh, red). Saya mampunya segitu apa boleh buat. Gaji saya sebagai CPNS cuma Rp 15ribu. Jadi kalau pagi sarapannya ketupat sayur sama ceker ayam atau kepala ayam,” tuturnya.

Sempat beberapa lama di BAKN, meski gaji kecil tetapi statusnya sudah tidak lontang lantung lagi. Status pekerjaannya lebih jelas dan teratur. Sampai kemudian memasuki tahun 1981, teman-teman di kantornya mengajak Agus kuliah. Kebetulan di Fakultas Hukum UI ada program ekstensi. Kuliahnya sore hari. ”Saya kepikiran, gimana mau kuliah? Biayanya darimana? Gaji juga nggak seberapa. Tetapi saat saya tanya berapa bayar kuliahnya, kata teman saya murah per semester cuma 15 rb. Jadi akhirnya saya nekad mendaftarkan diri,” tukasnya. 

Seingat Agus, ketika itu ada sekitar 30 orang teman sekantornya yang mendaftarkan diri dari satu kantor. Di luar dugaannya, hanya dia saja yang diterima. “Ah sialan, gua yang ngajak, loe yang diterima,” kata teman sekantornya, bersungut-sungut.

Nah sejak saat itulah Agus mulai kuliah sambil bekerja di  BAKN. Waktu pertama kali bekerja, kantornya masih di kawasan Senayan, dekat TVRI. Beberapa tahun kemudian pindah ke samping kantor, dekat Kantor Kemenegpora. Lantas pindah lagi ke Cililitan. Dari Cililitan pindah lagi ke Rawamangun yang dekat dengan Salemba UI, tempat Agus kuliah sore. 

Selama kuliah itulah pekerjaan Agus jadi kacau balau. Dia jadi sering bolos kantor untuk kuliah. Agus tidak peduli sebab dia bertekad menyelesaikan kuliahnya, karena dia menganggap bahwa kuliahnya itulah jalan buatnya mengubah nasibnya. Lama-kelamaan dia mulai tertarik untuk bekerja di lingkungan Fakultas Hukum UI.

Suatu kali dia ditegur atasannya di BAKN. Bukannya kapok, dia malah bilang pada atasannya itu meski jarang masuk kerja, namun bisa dibilang semua beban pekerjaannya sebagai pegawai negeri beres. “Saya fikir saya memang nekad. Kalau saya dimarahi ya saya ganti memarahi dia lagi. Saya bilang padanya : Sekarang bapak bisa jamin hidup saya ndak? Saya sekolah inikan untuk kepentingan kantor juga agar bisa meningkatkan kinerja saya,” ujarnya.

Oleh karena itu Agus meminta agar dirinya tidak usah diganggu dengan urusan absen di kantor. Dia bilang juga pada atasannya untuk tidak usah memikirkan promosi jabatan buatnya. Yang penting pekerjaannya beres. “Saya cuma minta agar kuliah saya jangan diganggu. Saya nggak menuntut diberi promosi, karena saya tahu memang prestasi saya jeblok sebab sering bolos kerja,” kenangnya. 

Lucunya meski sudah bicara terus terang begitu, Agus tetap juga dipromosikan. Agus waktu itu eselonnya paling rendah yaitu eselon lima. Dalam sejarah kantornya, Agus kerap digelari sebagai PNS dengan rekor bolos paling banyak. Saat Upacara tujuh belasan, diumumkan, pejabat eselon lima yang paling suka absennya adalah saya. Diapun tertawa saja sewaktu ada temannya memberitahukan hal itu.


Sampai akhirnya, saat sedang menulis skripsi dia ditawari dua dosen menjadi asisten. Satu hukum material, satu hukum dagang. Diapun pilih hukum dagang dengan berbagai pertimbangan salah satunya makin intensnya masalah hukum bisnis di Indonesia. Akhirnya setelah perjuangannya yang panjang, Agus selesai kuliah Sarjana Hukum di UI pada tahun 1986, tetapi dia baru wisuda pada 22 Februari 1987.

Entah bagaimana kisahnya, karena sudah tidak betah di kantornya yang lama Agus akhirnya minta pindah tempat tugas dari BAKN ke Fakultas Hukum UI. Dia ingin menjadi dosen saja. Ternyata oleh atasannya tidak dikasih dengan alasan waktu kuliah dulu di UI, dirinya tidak minta izin atasan. ”Ya udah, karena tidak dikasih, saya pilih keluar begitu saja dari BAKN. Nekad saja saya waktu itu,” katanya. 

Berakhirlah sudah karirnya sebagai birokrat di BAKN. Lantas karena sudah ada penawaran di Fakultas Hukum UI sebagai asisten dosen maka akhirnya dia menerima hal itu, sembari magang jadi notaris. ”Saya ada teman, notaris yang meminta saya membantu dia. Jadi selama menunggu status di Fakultas Hukum UI itu, dia bekerja pula di kantor notaris itu selama sekitar dua tahun,” katanya.

Barulah setelah dia diangkat menjadi CPNS di UI, dia tidak lagi bekerja di kantor notaris namun full bekerja sebagai dosen. Maka dimulailah karier mantan anak bambung di Sokaraja itu sebagai dosen di Fakultas Hukum UI. Kiprahnya di dunia pendidikan rupanya membawa perubahan besar baginya. 

Dia mulai menata hidupnya, termasuk ketika memutuskan untuk menikah dengan gadis pilihan hatinya Purwani Eko Prihatin pada 1986, saat masih berstatus PNS di BAKN. Pasangan ini lantas dikaruniai sepasang buah hati yaitu Arridhana Ciptadi (lahir Februari 1987) dan Anindya Chandra Dewi (lahir Mei 1988).

”Alhamdulillah, di dunia pendidikan inilah jalan terbuka. Padahal tidak pernah terbayangkan bahwa saya akhirnya masuk ke dunia ini. Saya lantas dikirim belajar ke Italia, mengikuti berbagai pendidikan non formal yang terkait dengan dunia hukum untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan saya,” ujarnya. 


Kebetulan proses perpindahannya dari BAKN ke UI lancar berkat pertemanannya di sana sini. Waktu dia mau keluar, Agus mengatakan pada temannya di BAKN bahwa dia bilang sedang melamar di UI. ”Saya bilang nanti kalo ada usulan masuk, kalau ada kekurangan berkas tidak usah dibalikkan namun bilang pada saya. Nanti saya penuhi apa kekurangannya. Ya jadi begitulah, begitu proses keluar saya di BAKN diproses, maka masuknya saya ke Fakultas Hukum UI juga diproses. Proses pertemanan membantu saya banyak banget. Jadi saat ada kekurangan, teman saya menelepon,’eh Gus kamu kurang ini,’ dan segera saya lengkapi. Beres deh,” ujarnya terkekeh.


Diapun terus meningkatkan karirnya. Terus diberi kesempatan untuk mengambil spesialisasi hukum notariat, dilanjutkan lagi ke S-2 Ilmu Hukum UI. Meski lulus sebagai notaris, dia tidak ambil kesempatan sebagai notaris, sebab sudah tahu pekerjaan notaris seperti apa. 

Setelah lulus S-2 Ilmu Hukum, dia langsung melanjutkan ke S-3 untuk mengejar gelar Doktor Ilmu Hukum. Dia juga berhasil mengumpulkan angka kredit yang memadai hingga akhirnya diapun dilantik sebagai Guru Besar Ilmu Hukum UI. Hingga sekarang. Meski begitu hobby-nya bermusik tetap berlanjut. ”Saya tetap main band dimana-mana saat waktu senggang,” ujarnya seraya menunjukkan gitar di ruang kerjanya di UI.


”Saya sempat punya beberapa band baik beraliran jazz, pop maupun rock. Bahkan sempat pula membuat lagu, rekaman dan album. Bikin sendiri saja sama teman-teman. Kan saya sudah kenal mereka lama sejak masih menggelandang di Jakarta, waktu tinggal sama teman saya di Kebayoran Lama dulu itu, hahahaha,” ujarnya.



Soal keluarga

Saat diminta bercerita tentang kehidupan keluarga, Agus mengaku kehidupannya sudah lengkap dan bahagia. Punya isteri yang dia sayangi setulus hati. Puteranya yang laki-laki sesudah lulus SMA langsung ke Singapura, kuliah di Nanyang Technology University, di bidang komputer. Disana sekitar empat tahun karena dapat beasiswa sehingga harus bekerja di Singapura. Kebetulan kampusnya yang meminta untuk membantu riset di negara pulau itu. Jadi selama dua tahun, dia membantu riset profesornya.


Kebetulan sekali pemilik Nanyang University, entah anaknya atau saudaranya punya hubungan baik dengan beberapa Ilmuwan di Amerika Serikat. Dan karena kenal dengan reputasi puteranya yang sulung akhirnya diterima kuliah Ph.D dibidang komputer di Universitas Georgia, Atlanta, Amerika Serikat. ”Sekarang dia belum selesai kuliah Ph.D nya karena baru berjalan kira-kira dua tahun ini,” ujar Agus.


Sedangkan yang bungsu, anak perempuan kesayangannya sehabis lulus SMA langsung ke Semarang, Jawa Tengah. Masuk ke Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro. Meneruskan cita-cita awal sang ayah yang tadinya ingin menjadi Arsitek. Tidak ada yang mau ikut ilmu bapaknya, ambil jurusan Ilmu Hukum. 

”Jadi itulah garis hidup. Cita-cita bapaknya dikasihkan ke anaknya. Akhirnya anak saya jadi arsitek, kuliah di Undip. Lulus dari sana terus ambil profesi di UI. Sekarang sudah jadi arsitek profesional. Yang perempuan ini sudah menikah, baru Mei 2012 lalu. Tidak lama lagi bila Tuhan mengizinkan saya akan menimang cucu saya,” ujarnya, tersenyum bahagia.


Awal menikah pada 1986, dia mula-mula tinggal di Pondok Indah. Maksudnya Pondok Indah mertua, sebab tidak mampu beli rumah sendiri. Begitu karirnya meningkat mantap, kini keluarga Agus tinggal di Sentul City. Main band masih tetap dilakoni, sembari jadi pejabat Kepala Divisi Hukum dalam organisasi Persatuan Artis, Penyanyi dan Pencipta Lagu yang dipimpin artis yang Anggota DPR Thanthowi Yahya.

”Saya sering ketemu mereka. Juga Toni Wenas, Once Dewa. Di youtube, jika search nama saya, ada semua itu. Di guru besar saya juga punya band, namanya Professor band. Anggotanya para guru besar  di UI. Profesor-profesor yang selain mengajar akademik keilmuan juga masih tetap mencintai musik. Kita sudah lima kali main di Java Jazz Festival,” kata Agus.

Hubungan komunikasi dengan anak-anaknya dijalin secara terbuka. Agus dan isterinya mendidik sendiri anak-anaknya, membimbing mereka tanpa mengekang. Bahkan di usia dewasa, Agus mengaku kini tidak lagi menganggap anak-anaknya seperti anak melainkan teman. Pernah terjadi ada kejadian lucu. Anaknya yang gadis kalau jalan-jalan ke mall bersama sang ayah, selalu minta rangkulan.

”Nah suatu ketika ada temannya istri saya memergoki Agus dan si anak. Diapun mengadu kepada isteri saya. ”Bu, tadi saya lihat si bapak dengan itu loh di mall…” seakan-akan mendapat berita besar. ”Dimana?” Disebutkannya sebuah mall, tentu saja isteri saya ketawa. ”Lahh, itu anak saya,” hahahaha. ”Kok mesra banget,” ujar si pengadu ndak puas. Nah, beda dengan anak saya yang laki-laki. Kita sering main musik bareng karena dia pintar main komputer. Saya main musik, dia yang rekam. Ya seperti teman saja baik yang sulung maupun yang bungsu,” ujarnya.

Kepada generasi muda alumni SMA Negeri 2 Purwokerto, Agus berpesan agar sedari awal menetapkan visi dan misi hidup. ”Saya dulu punya cita-cita tak muluk-muluk. Waktu itu saya hanya kepingin jadi orang baik saja. Titik,” kenangnya. 

Dengan menetapkan visi dan misi untuk menjadi orang baik saja maka hidup menjadi lebih sederhana dan tidak rumit. Dan karena untuk menjadi orang baik itu tidak susah maka yang lain bakalan datang dengan sendirinya. Dengan menjadi orang baik, teman akan datang dengan sendirinya, orang akan ringan untuk membantu, hanya bermodalkan menjadi orang baik. 

Menjadi orang baik itu bermakna orang tidak perlu mencuri, berbohong, main perempuan, minum, dan usahakan berperilaku jangan sampai menyakiti orang lain. Jadilah orang baik dari hati nurani. Bukan karena baik sebab ada maunya, tetapi benar-benar tulus dan ikhlas. ”Meski karakter saya sebagai orang bayumas masih ada, tegas dan lugas. Akan tetapi itu tidak menutup sifat natural kita,” kata Agus.

Agus juga memiliki pengalaman spiritual yang menarik. Semasa kecil dulu dia bergaul akrab dengan anak-anak kauman, pengajian di Sokaraja. Makanya dia bisa baca Al-Qur’an, juga kitab kuning yang sangat tradisional sebab bahasa Arab yang dipakai adalah bahasa Arab gundul, tanpa tanda baca. Begitu lulus SMA, sebagaimana dikisahkan di atas, dia pindah ke Jakarta. 

Dan Agus lantas bertemu dengan beberapa orang yang giat mencari ilmu agama. Agus juga rajin mengaji untuk menjaga semangat spiritual yang ada pada dirinya. Kebetulan dia senang mencoba-coba hal baru. Dan di Jakarta modelnya ada macam-macam, berbagai aliran ada. Agus pernah ikut pengajian yang diadakan kelompok Islam radikal, kelompok Muhammadiyah, tetapi juga pernah ikut pengajian Nurcholis Madjid yang liberal. Sehingga mosaik keagamaan yang difahami Agus begitu berwarna.

“Akan tetapi justru dengan begitu saya bisa mengerti dan esensi dari agama itu. Ternyata agama itu bukan sorban, jenggot atau pakaian yang mencerminkan kearaban akan tetapi lebih ke ajaran soal perilaku. Sebab ajaran Rasulullah Muhammad SAW itu lebih pada soal perilaku. Rasul sendiri menegaskan bahwa dia diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak, jadi bukan yang lain,” tukasnya. 

Menurut dia, justru dengan berangkat dari akhlak, dengan berperilaku yang baik maka kebaikan yang lain akan datang dengan sendirinya. Itu poin utama pesan saya. Jadilah orang yang baik, bukan hanya baik budi, akan tetapi baik dalam segala-galanya. Usaha tetap ada, doa juga tetap. Pasrah dan bersikap ikhlas itulah esensi Islam yang difahami Agus. Pendek kata, dengan keberadaan kita, maka orang lain ikut aman dan merasa tidak terancam. Orang lain senang ketika kita ada. Kalau bisa seperti itu maka yang lain-lain akan datang dengan sendirinya. 

Diet Sehat Melawan Covid19

Di masa pandemik oleh virus Covid19 ini, Paguyuban Asmari Kertajaya mengadakan webinar menggunakan video conference dengan tema Diet Sehat Melawan Covid19 pada tanggal 2 Mei 2020. Sebagai narasumber adalah Mokhamad Ali Zaenal Abidin, atau akrab disapa dengan Mas Ali. Webinar menggunakan aplikasi video conference zoom ini dipimpin oleh Haidar Hilmi sebagai moderator. Haidar adalah alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2013.

Ali Zaenal sekarang menjabat sebagai Country Manager Dompet Dhuafa di Australia. Sebagai pakar nutrisionis, beliau juga adalah pendiri dari Diet Partner, yaitu sebuah institusi sebagai sarana untuk memberikan edukasi mengenai gizi, diet dan kesehatan. Sekarang ini, Mas Ali juga sedang mengambil Advanced Diploma di bidang Leadership and Management di Greenwich College.

Mas Ali adalah alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2012, dan melanjutkan kuliah dan menjadi mahasiswa teladan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Mas Ali sangat aktif dalam organisasi semasa kuliah dan menjadi Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UGM periode 2015-2016.

Menurut Ali Zaenal, diet adalah merupakan pengelolaan makanan dan aktivitas fisik. Sehingga lebih mengoptimalkan diet sebagai perilaku dan pola hidup sehat. Pola makan sehat adalah pola makan yang seimbang, untuk memenuhi kebutuhan tubuh masing-masing, dan harus disertai aktivitas fisik rutin dan mengkonsumsi air minum 8 gelas per hari.

“Diet yang buruk dapat menimbulkan problema kesehatan pada jangka waktu yang panjang. Hal ini terlihat pada penyakit yang muncul di jaman modern ini yang semuanya berawal dari makanan, seperti diabetes, jantung, stroke dan obesitas”, demikian papar Ali Zaenal.

Untuk membantu masyarakat melakukan diet yang benar untuk kesehatan, Diet Partner juga menawarkan bisnis model berupa online diet program. Prinsipnya, dengan mengikuti online diet program dari Diet Partner, maka akan dilakukan pendampingan pengaturan diet dari ahli nutrisi yang handal. Diet Partner juga memberikan referensi nilai gizi dan makanan untuk produk-produk UKM (Usaha Kecil dan Menengah).

Diet Partner bisa digunakan untuk melakukan diet mengurangi atau menambah berat badan. Selain itu, Diet Partner juga akan sangat membantu pengaturan diet untuk pasien dengan penyakit tertentu seperti diabetes, jantung atau stroke sehingga dapat menjalankan diet sehat setelah meninggalkan rumah sakit. Dengan Diet Partner, maka diharapkan diet yang dilakukan menjadi kebiasaan atau perilaku (habit and behavior) untuk menjaga kesehatan tubuh.

Pola makan yang sehat disertai aktivitas olahraga rutin dan istirahat yang cukup, sangat diperlukan untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Terutama di masa pandemik Covid19 ini. Untuk mendukung sistem imun tubuh, juga diperlukan zat gizi mikro yaitu Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E dan Zinc.

Vitamin A banyak didapatkan dari sayuran berwarna merah seperti wortel, ubi jalar dan paprika merah, dan juga dari brokoli, bayam dan telur. Vitamin A ini sangat ampuh untuk mengatur sistem kekebalan tubuh dengan menjaga jaringan pernapasan dan pencernaan. Untuk peningkatan kekebalan tubuh, diperlukan Vitamin C yang merangsang terbentuknya antibodi, bisa didapatkan dari buah-buahan rasa asam seperti jeruk, stroberi dan tomat.

Peningkatan sistem imun tubuh juga memerlukan antioksidan, yaitu zat Vitamin E yang menetralkan radikal bebas. Vitamin E juga dipercaya dapat meremajakan sel-sel tubuh dan didapatkan dari kacang-kacangan, biji-bijian, dan sereal. Biji bunga matahari juga dipercaya kaya akan Vitamin E. Agar sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik seperti dalam proses penyembuhan luka, diperlukan Zinc yang banyak terdapat pada seafood, daging ayam, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Mas Ali juga memberikan tip kepada pria yang sudah berumur di atas 40 tahun untuk menjaga kesehatan reproduksi atau keperkasaan dengan tiga metode, yaitu: 1) konsumsi makanan yang mengandung antioksidan tinggi seperti terong ungu atau buah-buahan lain untuk melancarkan peredaran darah, 2) mengkonsumsi protein tinggi untuk meningkatkan aliran darah dan 3) berolahraga secara rutin supaya asupan antioksidan berfungsi dengan baik.