Teteh Angkot Yang Memberdayakan

Ketika kaum rebahan milenial lebih menyukai sanss abis dan galau dengan bucin, Liea Fadli terus mencoba dan berkutat dengan hasratnya untuk memberdayakan angkot di era dijital. Liea akhirnya berhasil mengembangkan aplikasi Angkoters untuk memudahkan pelanggan mendapatkan carter angkot di Bandung, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan angkot dan kesejahteraan sopir angkot.

Liea Fadli: Teteh Angkot yang memberdayakan

Liea Fadli, perempuan mungil alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2010. Liea sangat aktif berorganisasi semasa SMA, terutama dalam kegiatan Excelsiors, yaitu English Club alias Klub Bahasa Inggris di SMA berhalaman terluas di Kabupaten Banyumas. Di samping itu, Liea juga menimba pengalaman kepemimpinan dalam organisasi Pramuka. Dia bahkan menjadi Dewan Ambalan Garuda Shima angkatan 29. Liea merasakan sekali manfaat mengikuti kegiatan Pramuka di Ambalan Garuda Shima, sehingga membentuk karakternya saat ini.

Liea kemudian melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung mengambil jurusan Metrologi dan Instrumentasi.  Bandung rupanya sudah menarik hati perempuan manis ini, sehingga Liea memutuskan untuk tinggal di Bandung.

Dengan semangat yang tidak pantang putus, Liea berulang kali berusaha untuk memulai bisnis startup. Karena ia yakin akan masa depan teknologi digital yang bisa membantu kesejahteraan masyarakat. Beberapa startup yang dibinanya bersama teman-teman antara lain groovit, inatedia dan hiboeran.com. Liea juga mencoba berbisnis di bidang makanan Korea.

Meski pun kegagalan juga beberapa kali terjadi, namun dengan semangat membara, Liea terus mencari potensi pengembangan startup. Setelah melakukan kontemplasi diri yang panjang, akhirnya Liea tertarik membantu sopir angkot di Bandung dengan mengembangkan aplikasi Angkoters. Awalnya sederhana saja dengan menggunakan aplikasi Whatsapp untuk melakukan pemesanan.

Namun, animo masyarakat terus bertambah untuk menggunakan carter angkot di Bandung. Maka Liea dan teman-temannya pun mencoba megembangkan startup Angkoters. Dengan background Liea di bidang desain, maka urusan desain pada awalnya dapat dikerjakan sendiri. Ternyata Angkoters mempunyai prospek yang bagus, bahkan menjadi startup terbaik nomor satu di ajang kompetisi startup yang diselenggarakan oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) di Bandung tahun 2018.

“Modal usaha2 sebelumnya rata-rata modal bareng-bareng. Tapi amazingly yang angkoters modal skill saya ngedesain sama skill lobbying. Jadi totally zero modalnya,” demikian papar Liea.

Sekarang ini, Angkoters sudah cukup eksis dan rata-rata per bulan sudah mendapatkan ribuan pelanggan. Alhasil, sopir-sopir angkot Bandung pun merasa terbantu oleh Liea Fadli yang sekarang ngetop menjadi Teteh Angkot.

Telaga Kumpe: Bekas Telapak Werkudara

Banyak cerita dari tlatah Banyumas. Legenda yang jarang tercerita adalah bagaimana terbentuknya Gunung Slamet. Tentu saja ini tidak ilmiah, tetapi cerita orang jaman dulu saja. Alkisah, Bima atau Werkudara perlu menancapkan pasak di pulau Jawa, yaitu dengan meletakkan Gunung Slamet di tengah-tengah pulau.

Nah, sewaktu meletakkan Gunung Slamet, kedua kaki Werkudara menapak di dua tempat. Kaki kiri di Kaligua, dan kaki sebelah kanan menapak di daerah Sambirata, Cilongok. Kaki kanan yang menapak ini karena menahan berat Werkudara dan beban Gunung Slamet, maka melesak ke dalam dan membentuk sebuah telaga yang diberi nama Telaga Kumpe.

Telaga Kumpe, Gunung Lurah, Cilongok (Foto Hanan Hanifa)

Begitulah cerita nenek moyang tentang bagaimana terbentuknya Telaga Kumpe. Entah benar atau tidak. Tapi kayaknya tidak terlalu benar. Memang bentuknya mirip bekas telapak kaki. Tentunya yang bertelanjang kaki alias barefoot, karena jaman dulu belum ada sepatu Nike Favorfly. Telaga Kumpe hanya berjarak 18 kilometer dari kota Purwokerto. Jadi cukup memakan waktu perjalanan sekitar 30-50 menit saja.

“Akses ke Telaga Kumpe cukup lumayan, karena jalannya relatif terjal. Jadi pastikan mobil atau motor cukup prima,” demikian saran Hanan Hanifa yang baru menikmati kunjungan ke Telaga Kumpe.

Kalau anak milenial jaman sekarang, tentunya lebih percaya kalau Gunung Slamet adalah hasil erupsi volkanik yang bersifat andesitik pada jaman Kuarter. Hasilnya Gunung Slamet bermorfologi tipe strato volcano karena tersusun oleh endapan piroklastik dan lava berseling-seling. Perselingan kontak kedua batuan tersebut menyebabkan munculnya mata air panas di seputaran Gunung Slamet, seperti Guci dan Baturaden. Dan tentunya Telaga Kumpe, hanya merupakan morfologi cekungan yang terisi oleh air belaka.

***

Meski pun begitu, Telaga Kumpe merupakan salah satu sudut wilayah Banyumas yang asri. Asyik dikunjungi sebagai tempat wisata dengan bea masuk hanya lima ribu saja. Udaranya pun masih segar, belum terpolusi oleh asap kendaraan bermotor yang menjelaga. Pemandangan di sekitar pun masih ijo royo-royo menyejukkan mata. Perahu-perahu kecil pun disediakan untuk disewa, bisa juga untuk selfie dengan pose terkini, dengan tambahan lima ribu juga. Bahkan perahu bisa dinaiki bertiga.

“Telaga Kumpe sekarang sudah tertata apik. Bisa buat wisata sepeda atau pun lari lintas alam,” begitu jelas Latief Muchozin, tokoh masyarakat Sambirata.

Pemerintah Daerah, telah menggelontorkan dana sekitar seratus juta rupiah untuk merenovasi Telaga Kumpe. Alhasil, sekarang Telaga Kumpe telah berdandan cantik, siap dikunjungi pemujanya.











Berbakti Pada Negeri

Namanya sudah menunjukkan jiwa kepahlawanan. Umarotun Niswah. Artinya Umar Versi Perempuan. Itu merupakan harapan ayahanda Uma, begitu ia biasa disapa. Supaya mencontoh khalifah Islam yang kedua. Uma lahir di Meulaboh, Aceh pada tahun 1993.

Uma merupakan wanita lulusan SMA Negeri 2 Purwokerto tahun 2011. Semasa di SMA, pelbagai aktivitas dijalaninya. Mulai dari belajar organisasi di Rohis dan MPK. Selain itu, Uma juga cemerlang dalam pelajaran matematika dan selalu aktif mengikuti lomba-lomba OSN.

Continue reading

Berprestasi di Pertamina

Alumni SMA Negeri se-Purwokerto memang sangat membanggakan. Tidak hanya para senior yang sudah melanglang buana dan mengecap asam garam kehidupan. Namun para milenial-pun turut mewarnai kancah nasional. Tidak sia-sia perjuangan Jendral Gatot Subroto dan para pejuang Brigade Tentara Pelajar yang telah meletakkan dasar-dasar pendidikan dengan mendirikan SMA Negeri 2 Purwokerto.

Salah satu alumni-nya adalah Gilang Donny Pradana, lulusan SMA Negeri 2 Purwokerto tahun 2009. Gildon begitu dia biasa dipanggil teman-teman dekatnya. Masih muda, namun prestasinya luar biasa. Semasa SMA, Gildon dikenal sebagai coach untuk debat bahasa Inggris. Selepas lulus SMA, Gilang melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Jendral Sudirman Purwokerto. Ia lulus kuliah tahun 2013.

Continue reading

Berjuang di Pedalaman Halmahera

Di masa sekarang, sebagian besar orang berpacu meniti karier atau usaha. Mengutamakan kehidupan dunia. Tapi itu tidak berlaku untuk Christo Tri Kuntoro, yang sekarang lebih suka dipanggil Hasan Tito. Tito adalah nama panggilan kesayangan keluarga dan teman-teman kecilnya. Dan Hasan adalah sebutan nama Islami-nya.

Hampir sepanjang hidupnya, Hasan mengabdikan dirinya untuk kegiatan sosial dan keagamaan untuk membantu golongan masyarakat yang membutuhkan. Bahkan belakangan ini, Hasan fokus untuk melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat di pedalaman Pulau Halmahera di Kepulauan Maluku.

Continue reading

Kegiatan Ulang Tahun ke-70 SMA Negeri 2 Purwokerto

Tidak terasa, pada tanggal 1 Maret 2020 nanti, SMA Negeri 2 Purwokerto akan menginjak usia 70 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang telah melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa. Sesuai dengan julukannya di jaman dahulu sebagai sekolah perjuangan. Karena SMA Negeri 2 Purwokerto memang didirikan oleh pemuda-pemuda pejuang dari Brigade Tentara Pelajar yang dipimpin oleh Jendral Gatot Subroto.

Continue reading

Motor Penggerak Asmari Purwokerto

Namanya Andrijani Sulistiowati. Biasa dipanggil Andri. Tentu ia lebih suka dipanggil mba daripada ibu. Ia lulus sekolah dari SMA Negeri 1 Purwokerto tahun 1987. Prestasi di sekolah biasa-biasa saja, namun kemampuan dan pengalaman berorganisasi yang luar biasa. Sekarang ia menggawangi Law Office Andrijani Sulistiowati and Partners di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Telah berkecimpung sebagai praktisi hukum lebih dari 27 tahun selepas lulus kuliah.

Continue reading

Perbankan Syariah Semakin Bergairah

Kiranya sekarang sudah menjadi trend bagi masyarakat Indonesia untuk secara konsisten memakai jasa perbankan dan layanan keuangan syariah. Melihat trend besar tersebut,  bank-bank raksasa di Indonesia pun berlomba-lomba memberikan pelayanan jasa syariah. Jasa perbankan syariah Islami ini tidak lagi menjadi jasa pelengkap, bahkan sekarang cenderung menjadi jasa perbankan utama untuk masyarakat.

Salah satu praktisi perbankan syariah di sebuah bank syariah terbesar di Indonesia adalah Akhsin Muammar. Sekarang ini Akhsin telah menjabat sebagai Manager pada pelbagai posisi di Bank Syariah Mandiri. Karier perbankan Akhsin, yang merupakan alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2003 ini cukup cemerlang.

Akhsir Muammar: pakar perbankan syariah.

Selepas lulus dari SMA Negeri 2 Purwokerto, Akhsin tertarik untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Jakarta. Awalnya karena rasa penasaran dengan faham Islam Liberal yang sering dikaitkan dengan kurikulum pendidikan UIN Syarif Hidayatullah. Namun, setelah ia menjalani pendidikan sampai lulus menjadi sarjana, aspek-aspek Islam Liberal justru tidak ia jumpai. Memang ada sebagian kecil mahasiswa yang berfaham Islam Liberal, tetapi tidak signifikan.

Alih-alih, Akhsin justru banyak menjumpai dosen yang bergiat dalam perbankan syariah. Alhasil, ia mulai memahami, menggali dan mencintai perbankan syariah.

“Sejak mahasiswa, lingkungan perkenalan dan pertemanan saya adalah para pegiat studi ekonomi Islam”, tandas Akhsin.

Akhsin juga meningkatkan lagi akan pemahaman mengenai perbankan syariah dengan melanjutkan studi untuk mendapatkan MBA (Master of Business Administration) sekaligus dari dua institusi yaitu Universitas Indonesia dan Universite Grenoble Alpes di Perancis. Sebagai informasi, Universite Grenoble Alpes merupakan universitas terkemuka di Perancis yang telah melahirkan beberapa pemimpin dunia, seperti Presiden Korea Selatan, Presiden Jerman dan sejumlah menteri keuangan di negara terkemuka.

***

Akhsin meyakini akan prospek yang besar dari perbankan syariah di Indonesia.

“Semua bank syariah selama masih beroperasi aktif diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Dewan Syariah Nasional MUI. Jadi memilih bank syariah saat ini lebih krn aspek bisnisnya saja”, demikian jelas Akhsin.

Lebih lanjut Akhsin menegaskan bahwa untuk aspek kesyariahan, semua institusi perbankan comply kepada hukum positif dan hukum syariah yang didasarkan Fatwa Ulama Negara, bukan ulama perseorangan.

Dengan jamimam tersebut, maka masyarakat lebih mudah memilih jasa perbankan syariah yang nyaman di hati, yang layanannya bagus, yang teknologinya canggih, yang dekat rumah, atau pun yang dikenal baik.

Akhsin sangat optimis dengan  perkembangan dan potensi perbankan syariah sekarang ini. Karena di tingkat nasional sudah dibentuk Komite Nasional Keuangan Syariah, diketuai Presiden RI langsung. Dengan demikian percepatan perbankan syariah di Indonesia akan semakin bagus.

Menggerakkan Semesta dengan Ketertarikan

Manusia adalah makhluk yang memang tiada tara. Dibekali otak untuk berfikir dan juga rasa untuk mengindera. Dengan mengikuti rasa, maka semangat hidup akan menyala mengikuti arah ketertarikan kita. Dan semesta pun senantiasa mengikutinya.

Mengolah rasa, itulah prinsip hidup Mutia Amelia Febriana. Sehingga dalam usia yang masih muda, namun sudah mampu menggenggam dunia. Bahkan pelbagai penghargaan nasional tentang seni dan arsitektur budaya pun diraihnya.

Continue reading

Nostalgia SMA (1)

Text: Ahmad Munaji

OSIS – part 1

Jabatan Sekretaris OSIS adalah karir tertinggiku di sekolah. Jabatan itulah yang membuatku lebih dikenal guru dan teman-teman sak sekolah. Jabatan itu pula yang mengharuskanku berbagi waktu antara belajar dan berorganisasi. Juga salah satu saranaku untuk mengenal cewek, hi..hi..(modus.com)

Originality-nya (asline Ndes), iso dadi pengurus OSIS merga aku dijorogke Pak Eman. Pembina OSIS sekaligus Guru Agama itu entah dengan pertimbangan apa koq getol mendorongku ikut maju dalam pemilihan Ketua OSIS.

Continue reading