Muhammad Fadhil: Ahli Pertanahan Yang Mensolidkan Esmadu Delima

Salah satu kumpulan alumni SMA se-Purwokerto yang paling eksis adalah Esmadu Delima. Kabarnya merupakan singkatan dari Es-M-A Dua Delapan Lima, artinya alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 1985. Berbagai kegiatan reuni dan sosial telah dijalankan dengan baik dan mendapat perhatian pelbagai kalangan.

Tokoh di balik kesuksesan kumpulan alumni Esmadu Delima adalah Bapak Muhammad Fadhil yang menjabat sebagai Ketua Alumni Esmadu Delima. Tentunya beliau juga merupakan alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 1985. Selepas dari SMA, beliau melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Jendral Sudirman di Purwokerto. Beliau juga merupakan lulusan Magister Hukum Bisnis Universitas Gadjah Mada.

***

Muhammad Fadhil: Ahli Pertanahan Yang Mensolidkan Esmadu Delima

Alumni dari Esmadu Delima memang tergolong cukup menonjol. Salah satu alumni Esmadu Delima yang menonjol adalah Ageng Giriyono, yang sekarang menjabat sebagai Direktur Pertamina Lubricants. Kesuksesan Esmadu Delima juga dikarenakan banyak berbagi pekerjaan saja dengan sesama anggota alumni.

“Motor sebenarnya para doker di esmadu delima terutama; Dokter Wulan, yg kemarin penyuluhan Thalasemia, dokter Indah Spesialis Paru, Dokter Eko Wahtju Tjahjono, dulu kepala klinik Total, sekarang di Pertamina  beliau motor utamanya dan dokter Untung Gunarto Spesialis Saraf,” pungkas Bapak Fadhil.

***

Sekarang ini Pak Fadhil memperoleh amanah jabatan sebagai Kepala Kantor ATR/BPN (Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional) Kabupaten Tegal. Prinsip hidup Bapak Fadhil dalam menjalankan amanah adalah berusaha memberikan yang terbaik.

“Pada semua amanah yang dibebankan pada saya, saya membuat 8 layanan ODS ( One Day Services ) di Kota kelahiran saya Purwokerto. Sehingga image bahwa mengurus sertipikat seperti awis (mahal), ewed (susah) lan dangu (lama) dapat mulai terkikis,” demikian jelas Pak Fadhil.

Bapak Muhammad Fadhil juga membuka kesempatan apabila ada teman-teman Asmari Purwokerto yang ingin berkonsultasi tentang masalah tanah. Dengan pengalaman dan expertise beliau di bidang pertanahan, semoga dapat membantu permasalahan-permasalahan yang ada.

Pengalaman Pak Fadhil yang paling berkesan adalah ketika beliau terjun langsung menangani pembebasan tanah yang sekarang digunakan untuk Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport). Banyak suka dan dukanya, terutama ketika menghadapi massa yang menolak pembangunan bandara. Namun dengan kematangan dan profesional, permasalahan-permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

Telaga Kumpe: Bekas Telapak Werkudara

Banyak cerita dari tlatah Banyumas. Legenda yang jarang tercerita adalah bagaimana terbentuknya Gunung Slamet. Tentu saja ini tidak ilmiah, tetapi cerita orang jaman dulu saja. Alkisah, Bima atau Werkudara perlu menancapkan pasak di pulau Jawa, yaitu dengan meletakkan Gunung Slamet di tengah-tengah pulau.

Nah, sewaktu meletakkan Gunung Slamet, kedua kaki Werkudara menapak di dua tempat. Kaki kiri di Kaligua, dan kaki sebelah kanan menapak di daerah Sambirata, Cilongok. Kaki kanan yang menapak ini karena menahan berat Werkudara dan beban Gunung Slamet, maka melesak ke dalam dan membentuk sebuah telaga yang diberi nama Telaga Kumpe.

Telaga Kumpe, Gunung Lurah, Cilongok (Foto Hanan Hanifa)

Begitulah cerita nenek moyang tentang bagaimana terbentuknya Telaga Kumpe. Entah benar atau tidak. Tapi kayaknya tidak terlalu benar. Memang bentuknya mirip bekas telapak kaki. Tentunya yang bertelanjang kaki alias barefoot, karena jaman dulu belum ada sepatu Nike Favorfly. Telaga Kumpe hanya berjarak 18 kilometer dari kota Purwokerto. Jadi cukup memakan waktu perjalanan sekitar 30-50 menit saja.

“Akses ke Telaga Kumpe cukup lumayan, karena jalannya relatif terjal. Jadi pastikan mobil atau motor cukup prima,” demikian saran Hanan Hanifa yang baru menikmati kunjungan ke Telaga Kumpe.

Kalau anak milenial jaman sekarang, tentunya lebih percaya kalau Gunung Slamet adalah hasil erupsi volkanik yang bersifat andesitik pada jaman Kuarter. Hasilnya Gunung Slamet bermorfologi tipe strato volcano karena tersusun oleh endapan piroklastik dan lava berseling-seling. Perselingan kontak kedua batuan tersebut menyebabkan munculnya mata air panas di seputaran Gunung Slamet, seperti Guci dan Baturaden. Dan tentunya Telaga Kumpe, hanya merupakan morfologi cekungan yang terisi oleh air belaka.

***

Meski pun begitu, Telaga Kumpe merupakan salah satu sudut wilayah Banyumas yang asri. Asyik dikunjungi sebagai tempat wisata dengan bea masuk hanya lima ribu saja. Udaranya pun masih segar, belum terpolusi oleh asap kendaraan bermotor yang menjelaga. Pemandangan di sekitar pun masih ijo royo-royo menyejukkan mata. Perahu-perahu kecil pun disediakan untuk disewa, bisa juga untuk selfie dengan pose terkini, dengan tambahan lima ribu juga. Bahkan perahu bisa dinaiki bertiga.

“Telaga Kumpe sekarang sudah tertata apik. Bisa buat wisata sepeda atau pun lari lintas alam,” begitu jelas Latief Muchozin, tokoh masyarakat Sambirata.

Pemerintah Daerah, telah menggelontorkan dana sekitar seratus juta rupiah untuk merenovasi Telaga Kumpe. Alhasil, sekarang Telaga Kumpe telah berdandan cantik, siap dikunjungi pemujanya.











Berbakti Pada Negeri

Namanya sudah menunjukkan jiwa kepahlawanan. Umarotun Niswah. Artinya Umar Versi Perempuan. Itu merupakan harapan ayahanda Uma, begitu ia biasa disapa. Supaya mencontoh khalifah Islam yang kedua. Uma lahir di Meulaboh, Aceh pada tahun 1993.

Uma merupakan wanita lulusan SMA Negeri 2 Purwokerto tahun 2011. Semasa di SMA, pelbagai aktivitas dijalaninya. Mulai dari belajar organisasi di Rohis dan MPK. Selain itu, Uma juga cemerlang dalam pelajaran matematika dan selalu aktif mengikuti lomba-lomba OSN.

Continue reading

Berjuang di Pedalaman Halmahera

Di masa sekarang, sebagian besar orang berpacu meniti karier atau usaha. Mengutamakan kehidupan dunia. Tapi itu tidak berlaku untuk Christo Tri Kuntoro, yang sekarang lebih suka dipanggil Hasan Tito. Tito adalah nama panggilan kesayangan keluarga dan teman-teman kecilnya. Dan Hasan adalah sebutan nama Islami-nya.

Hampir sepanjang hidupnya, Hasan mengabdikan dirinya untuk kegiatan sosial dan keagamaan untuk membantu golongan masyarakat yang membutuhkan. Bahkan belakangan ini, Hasan fokus untuk melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat di pedalaman Pulau Halmahera di Kepulauan Maluku.

Continue reading

Menggerakkan Semesta dengan Ketertarikan

Manusia adalah makhluk yang memang tiada tara. Dibekali otak untuk berfikir dan juga rasa untuk mengindera. Dengan mengikuti rasa, maka semangat hidup akan menyala mengikuti arah ketertarikan kita. Dan semesta pun senantiasa mengikutinya.

Mengolah rasa, itulah prinsip hidup Mutia Amelia Febriana. Sehingga dalam usia yang masih muda, namun sudah mampu menggenggam dunia. Bahkan pelbagai penghargaan nasional tentang seni dan arsitektur budaya pun diraihnya.

Continue reading